Suporter Berjatuhan Dalam Tragedi Kanjuruan, Psikologis Suporter Di Tanyakan

Suporter Berjatuhan Dalam Tragedi Kanjuruan, Psikologis Suporter Di Tanyakan


Belum lama ini, yaitu 1 Oktober lalu terjadi tragedi yang menyimpan duka begitu dalam bagi persebakbola tanah air. Tragedi Kanjuruan yang menewaskan banyak korban jiwa tersebut menyisakan duka yang begitu mendalam bagi seluruh masyarakat di tanah air. Kejadian tersebut tentu sangat mempengaruhi para supporter dan orang-orang yang jatuh sebagai korban dari berbagai sisi. Salah satunya, apabila ditinjau dari sisi psikologis.

Berdasarkan situs https://uii.ac.id yang menerbitkan artikel berjudul “Mengulik Perspektif Psikologi dari Peristiwa Duka di Stadion Kanjuruhan”, seorang dosen Studi Psikolog Universitas Islam Indonesia yaitu Qurotul Uyun menyampaikan rasa prihatin dan bela sungkawa atas kejadian yang menimpa dunia sepak bola di Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa pada situasi yang ramai di stadion cenderung mempengaruhi supporter untuk bersikap lebih reaktif. Dalam suatu kerumunan, emosi setiap supporter akan meningkat dan identitas yang sebelumnya individu akan mulai berubah menjadi identitas massa atau kelompok. Adanya massa dalam situasi panik kemudian layaknya benda cair dimana walaupun secara mental masih banyak individu yang bersikap rasional namun karena suatu kondisi maka akan mengikuti arah dan terbawa emosi sehingga memicu keributan, berdesak-desakan, dan saling mementingkan diri sendiri untuk keselamatan pribadi. Hal inilah yang menjadi penyebab dari tragedi Kanjuruhan yang menewaskan banyak korban jiwa tersebut. Walaupun terdapat variable-variabel lain yang memicu kericuhan tersebut seperti adanya tembakan gas air mata yang membuat supporter bingung dan panik, serta keributan supporter yang tidak terima karena kekalahan pertandingan, namun dari sisi psikologis kerumunan masa yang saling berebut untuk keluar tersebutlah yang menjadi pemicu adanya tragedi terutama ketika emosi massa tidak dapat terkendali lagi.

Alhasil, banyak supporter yang berjatuhan kemudian berdesak-desakan dan terinjak-injak di Stadion Kanjuruhan Malang. Supporter yang berjatuhan ini bermula dari rasa frustasi para supporter Arema yang mengalami kekalahan di kandang sendiri sehingga ditinjau secara psikologis merupakan dampak dari teritori kekuasaan supporter Arema. Memang suatu entitas supporter tersebut kemudian membabi buta untuk mengungkapkan kekecewaanya terhadap pemain Arema. Untuk meredam hal tersebut, pihak aparat kemudian menyemprotkan gas air mata dimana hal inilah yang memicu kericuhan dan kepanikan seluruh supporter di stadion. Para supporterpun saling berlarian dan berdesakan untuk menyelamatkan diri dari tembakan gas air mata dimana kumpulan masa ini mulai menampakkan emosi yang tak terkendali. Alhasil, kericuhan dan keributan pun tak dapat dibendung lagi sehingga menjadi tragedi yang menewaskan banyak korban jiwa. Tiga faktor yang menjadi penyebab dari banyaknya korban jiwa pada tragedy tersebut ialah adanya frustasi yang berujung agresi dimana mengandung beberapa faktor berupa kesesakan, suhu, dan keributan. Ketiga faktor ini ditemukan di tempat kejadian. Menurut Ilham Wasi dalam Harian Fajar (2022) kesesakan terjadi karena jumlah suporter yang memenuhi stadion dan terindikasi pada penjualan tiket yang melebihi kapasitas. Suhu yang panas karena gas air mata ditembakkan ke tribun meski telah sesak oleh penonton. Serta keributan yang muncul sebagai respons atas agresi yang muncul secara berentetan dari kedua pihak.

Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang  jumlah korban dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang pasca pertandingan Arema FC melawan Persebaya berjumlah 754 orang. Situs Antara Jatim (2022) yaitu  https://jatim.antaranews.com  menguraikan bahwa dari 754 korban tersebut sejumlah 132 diantaranya meninggal dunia, 596 orang mengalami luka ringan dan sedang, sementara sisanya yaitu 26 orang mengalami luka berat. Kejadian yang menimpa supporter ini tentu berdampak bagi para supporter yang menjadi bagian tragedi tersebut khususnya dari sisi psikologis. Pastinya setelah kejadian naas tersebut, sisi psikologis supporter akan dipertanyakan. Dilihat berdasarkan sisi psikologis, adanya kejadian tersebut tentu meninggalkan trauma bagi sebagian supporter terutama yang kehilangan teman, sanak saudara, atau orang-orang lain terdekatnya. Mereka pasti akan selalu teringat bahwa peristiwa yang awalnya ceria berubah menjadi duka terutama ketika mendapati orang terdekat mereka keluar dari stadion dalam keadaan tidak bernyawa.

Dari supporter yang ikut berada di tempat kejadian pastinya juga akan mengalami trauma ketika berkumpul dengan banyak orang (massa) karena akan teringat dengan kejadian menyeramkan yang dialaminya. Tak sedikit yang akan menyalahkan diri sendiri seperti berandai-andai apabila tidak mengajak teman-temannya untuk menonton sepak bola maka tidak akan peristiwa duka. Atau bisa juga membayangkan apabila ia tidak meninggalkan teman atau keluarganya maka mereka dapat selamat bersama. Adanya andai-andai dan perasaan menyalahkan diri atas apa yang telah terjadi inilah yang memicu adanya dampak psikologis para supporter tragedy Kanjuruhan. Dampak ini bisa berupa cemas, stress, dan depresi. Untuk itu, penting bagi orang terdekat supporter yang mengalami trauma untuk mendampingi dalam masa pemulihan sehingga bisa terlepas dari bayang-bayang tragedi yang terus menghantui.

Tidak hanya itu, apabila dilihat dari korban-korban yang berjatuhan terutama masih anak-anak dan remaja dampak psikologis terbesar juga akan menimpa keluarga korban yang ditinggalkan selama-lamanya. Misalnya saja seorang ibu yang harus kehilangan anaknya dalam tragedi naas yang merenggut nyawa buah hatinya ketika menonton sepak bola. Keluarga korban yang ditinggalkan tentu akan kaget secara mental karena kehilangan yang terjadi secara tiba-tiba tentu menimbulkan beban yang berat dalam sisi psikologis. Kesedihan yang mendalam ini pasti dirasakan oleh seluruh keluarga korban. Walaupun begitu, kesedihan memang hal yang tidak dapat dihindari dan merupakan hal yang wajar bagi manusia. Namun, seseorang tersebut harus tetap bangkit dan kembali menjalankan aktivitas seperti sedia kala. Dukungan dari orang terdekat dan sahabat sangat diperlukan agar kondisi mental supporter ataupun keluarga korban cepat membaik.

Adanya tragedi Kajuruan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi banyak pihak terutama aparat kepolisian dan pihak penyelenggara sepak bola di Indonesia. Semoga belajar dari peristiwa tesebut terdapat banyak hikmah yang bisa dipetik agar tidak terjadi kejadian serupa untuk ke depannya. Di masa selanjutnya, pertandingan sepak bola Indonesia harus bisa menghadirkan momen-momen dalam menjalin persahabatan, sportivitas, dan menjadi tontonan yang dapat menghibur masyarakat.

 

Referensi

Ilham, W. 2022. Memahami Tragedi Stadion Kanjuruhan dari Perspektif Psikologi. Harian Fajar. Diakses melalui https://harian.fajar.co.id/2022/10/04/memahami-tragedi-stadion-kanjuruhan-dari-perspektif-psikologi/ pada 28 Oktober 2022.

Universitas Islam Indonesia. 2022. Mengulik Perspektif Psikologi dari Peristiwa Duka di Stadion Kanjuruhan. Berita UII, Diakses melalui https://www.uii.ac.id/mengulik-perspektif-psikologi-dari-peristiwa-duka-di-stadion-kanjuruhan/  pada 28 oktober 2022.

Antara News. 2022. Jumlah Korban Tragedi Kanjuruhan Mencapai 754 orang. Antara News. Diakses melalui https://jatim.antaranews.com/berita/645033/jumlah-korban-tragedi-kanjuruhan-mencapai754orang#:~:text=Jumlah%20korban%20Tragedi%20Kanjuruhan%20mencapai%20754%20orang%20%2D%20ANTARA%20News%20Jawa%20Timur pada 28 Oktober 2022.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Feauture News - “CEMARA COFFE” Coffe Shop di Tepi Sawah

FEATURE NEWS : MEMBURU 3000 DURIAN DI FESTIVAL DURIAN, TUGU PUSAKA, SELOGIRI, WONOGIRI